Wednesday, June 10, 2020

Sebuah Pelajaran.

6 tahun yang lalu,

Tentang isi pesan ini, aku mau cerita tentang betapa memaafkan dan berdamai dengan masa lalu itu membuat hati tenang tanpa membenci.
Bagi yang tahu dia berarti sudah mengikuti bagaimana perjalanan cintaku sejak awal untuk bisa sampai tahap merelakan dan melupakan. Tidak menutup hati dan buta sekitar.
Ada cerita yang menarik dari aku dan kakak ini.
Kita dipertemukan oleh cinta yang sama, dengan kesalahpahaman. Lalu merasa dikhianati satu sama lain sebab seorang laki-laki.
Di umurku masih 18 tahun, dan dalam kondisi hubungan jarak jauh. Seperti ujian cinta ldr lainnya adalah orang ketiga. Lelaki yang membohongi dua wanita. Iya seperti itu jelasnya.
Lalu aku dibutakan dengan yang namanya perasaan. Tidak ada yang lebih sakit dibanding dikhianati, tapi selama prosesnya kami berdua memaknai memaafkan membuat kita menjadi lebih baik.
Pernah suatu ketika, lelaki itu ternyata memilih aku yang bertahun dengannya dibanding kakak ini yang hubungannya masih seumur jagung saat itu.
Lalu ketololan jatuh pada konferensi telpon bertiga, malam dimana esok hari aku akan ujian nasional. Bayangkan betapa pelajaran bisa hilang dalam semalam.
Aku yang memilih mengalah karena jauh tak berdaya, namun lelaki itu berkata ‘aku memilihmu’ dia meninggalkan kakak baik ini.
Semua berlalu, seperti biasa aku kembali bersamanya dan tidak tahu kakak ini seperti apa saat itu.
Mari kita coba kembali bangun kepercayaan ini. Gumamku waktu itu.
Di saat aku ternyata menyusulnya, ada banyak cerita dengan kakak ini. Kami bertiga berada satu kampus yang sama dan lingkungan yang sama.
Bagaimana mungkin aku bergoncengan dengannya untuk menyaksikan lelaki ‘kami’ ini tampil bernyanyi.
Bagaimana mungkin kami duduk bersampingan dan lelaki itu datang ke arah kami tapi memilih duduk disebelahku.
Saat itu aku hanya memikirkan perasaanku.
Lalu setelahnya, aku belajar.
Seperti yang ku katakan kemarin, ‘sebuah kesalahan yang dilakukan, besar kemungkinan akan terulang.’
Aku memilih kembali ke kotaku dan benar dia mengulanginya lagi dengan orang lain. Kami jadi sering bertengkar.
Saat itu aku sadar, ‘sekali kepercayaan hilang tidak ada lagi kita. Semuanya hambar dan tidak sama lagi. Upaya memperbaiki hanyalah ilusi. Luka tetap ada di dalam hati. Menjadi monster yang melampiaskan kekecewaan  kepada yang datang. Kita telah hancur. Tidak ada cara lain selain berpisah.
Namun membenci tidak akan membuat hati baik, aku ingat saat terakhir bertemu dan ku katakan
‘Kita tidak bisa mencoba lagi, kita telah hilang. Kita butuh waktu masing-masing untuk sembuh. Saat proses itu, jangan pernah datang lagi. Kau boleh datang saat kenangan kita sudah bisa kita tertawakan bersama. Mungkin berbulan atau bertahun kemudian’
Singkat cerita 6 bulan kemudian, kita menjadi teman cerita. Dia bercerita tentang pasangannya yang baru, dan akupun demikian.
Tidak ada lagi benci. Meski pernah kecewa, tapi yakinlah membenci semakin membuatmu sulit melupakan. Maka setelah kecewa, minta pada tuhan untuk ditegarkan hatinya.
Seiring berjalan waktu, aku belajar memaafkan. Dengan kakak ini, aku sampaikan maaf. Begitupun dengan dia yang kini sudah bahagia dengan istrinya. 4 tahun yang mengesankan dan beri banyak pelajaran.

Saturday, April 29, 2017

Aku, cinta, dan Kedamaian Hati

Aku, cinta, dan kedamaian hati.

Kisahku terhenti pada seseorang yang hadir sebagai kebahagiaan dan belum lama ini ku sadari tak memberi luka parah dalam hatiku dan aku sebut dia "cinta terakhir remajaku".
Sekali lagi, di masa lalu aku pernah jatuh cinta. Mencintai dengan sangat, namun akhirnya harus pergi. Beberapa kali datang dan pergi seenak jidat, sampai cinta itu bermetamorfosis hanya sebagai rasa rindu akan pertemuan. Kepercayaan sirna, diiringi dengan perginya rasa yang pernah ada. Saat itu aku berpikir, kembali adalah tempat terbaik ketika ketakutan akan penyesalan hadir. Begitu berkali-kali, sampai pada ujung cerita yang hambar dan membuatku menjadi lupa rasanya mencintai. Dan jalan itu tetap ku tekuni. Iya itu terjadi beberapa waktu lalu.

"Cinta terakhir remajaku"
Waktu berlalu, dan skenario Tuhan yang tak terduga mempertemukanku dengan seseorang dengan jalan yang berbeda. Aku yakin, saat itu kami benar-benar jatuh cinta. Aku mencintainya, dan diapun mencintaiku. Rasanya begitu istimewa, ketika hal sederhana yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya, ada pada dirinya. Aku jatuh terlalu dalam sampai lupa pernah terluka. Kebahagiaan yang ia hadirkan terus membawa senyuman. Sekali air mataku tumpah karena kebingunganku sendiri. Namun semuanya kembali menjadi tawa. Tidak banyak kenangan, tidak banyak moment, tidak banyak pertemuan, terlebih tidak banyak kabar diantara aku dan dia. Tapi tetap memberiku kesenangan, membuatku tersenyum dengan sendirinya, semuanya karena cinta dan rasa percaya. Dia sosok yang luar biasa dan sangat membuatku belajar. Belajar memahami, kembali mencintai, rasa sabar, juga keyakinan dan kepercayaan. Sekalipun tanpa kabar, sekalipun begitu banyak wanita di sekelilingnya, namun tak pernah ada ragu jika ia akan pergi dengan alasan wanita lain. Saat itu yang aku tahu adalah aku mencintainya, aku selalu ingin memahaminya, aku tidak ingin dia pergi. Bersamanya, aku seperti Cinderella bersepatu kaca. Namun seperti dalam dongengnya, kebahagiaan itu tidak lama. Pada pukul 00.00 tepat tengah malam, semua keindahan dan kebahagiaan Cinderella pun musnah. Kenyataannya, sehari sebelum ulang tahunnya, ia memutuskan untuk pergi. Pergi membawa separuh hatiku.
Selepas kepergiaannya, awalnya aku memaki dalam diri, amarah membuncah dengan keputusan itu. Namun yang membuatku heran, aku tidak menangis. Saat itu, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan, ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan, dan sebuah kado sederhana yang telah aku siapkan dan perjuangkan. Namun ketika di hadapannya, semua hal itu tak dapat aku tunjukkan. Sekali lagi, ia pergi membawa separuh hatiku.

Dear.. seseorang yang teramat istimewa,
Aku telah belajar arti cinta sesungguhnya saat mencintaimu.
Seperti kata bang Tere-liye, hakikat cinta adalah melepaskan. Beberapa orang sebelum kamu, kalimat ini coba aku pahami, namun selalu aku ingkari. Tapi mengenalmu, tapi mencintaimu, benar-benar membuatku sadar kebenaran kalimat ini.
"Saat kau sudah tak ingin bersamaku, lalu untuk apa aku menahan mu tetap tinggal? Untuk apa aku memaksamu peduli, kalau sudah banyak hal yang membuatmu melupakanku? Untuk apa bertahan, kalau sudah banyak hal yang membuatmu ingin pergi? Untuk apa mencegah perpisahan, kalau sejatinya hatimu sudah tak menginginkanku?" Dan kalimat-kalimat tanya itu terus terulang di otakku.
Beberapa hari, hati ini mulai ikhlas. Fokus diri pada pengobatan dan kesehatan. Yah seiring penyembuhan fisikku, hatikupun juga ikut terobati.

Dan hari ini, detik aku menuliskan ini, aku paham mengapa aku tak menangis saat itu. Karena rasa cinta yang dengan ikhlas aku lepaskan.
Melepaskan dia, bukan berarti aku tidak mencintainya lagi. Namun inilah kebenaran kalimat bang Tere tentang hakikat cinta itu. Aku melepasnya untuk melihatnya tersenyum, aku melepasnya untuk melihat dia bahagia. Karena bersamaku, ia belum benar-benar mendapatkan kebahagiaan. Dan rasa cinta ini membuatku ingin memeliharanya.

Dear.. cinta terakhir remajaku..
Ku tutup kisahku bersamamu, aku bahagia mengenalmu, aku bahagia mencintaimu. Terima kasih telah hadir walau sejenak dan berlari tanpa hormat, terima kasih untuk waktu singkat yang membuatku kembali jatuh cinta. Aku akan menjaga cinta ini dalam hati. Ku biarkan kau menutup pintu hati, dan biarkan aku sendiri dalam damai. Sampai saatnya kau kembali menghampiriku atau hadirnya seseorang yang menggantikanmu saat ijab kabul terucap.

Friday, March 24, 2017

Shobahul khair

Pagi ini, aku hendak berjemur di tengah terik matahari pagi tepat di atas atap kamarku, aku berdecak kagum atas apa yang Tuhanku ciptakan. Pohon hijau yang mempermudah manusia menghirup oksigen di pagi hari, disertai kicauan burung yang hinggap di dahannya. Awan putih seraya menari pada indahnya langit biru. Sesekali kupalingkan wajahku untuk melihat bangunan-bangunan rumah bak gedung pencakar langit daerah perkotaan. Aku bernafas panjang, "Tuhan udara ini begitu segar, udara dan terik matahari ini sangat membantu terapiku, agar bakteri itu perlahan pergi." Lalu mataku tertuju pada sebuah rumah yang ada di hadapanku. Memperhatikan aktivitas pagi penghuni rumah tersebut. Ada anak kecil di sana, usianya sekitar 2-3 tahun. Ia berjalan mencari sesuatu entah itu apa. Setelah mencari, ia kembali menghampiri ibunya, ayahnya pun hendak berangkat kerja, lalu anak itu juga menghampiri ayahnya, ia begitu polos, ia mengambil tangan ayahnya dengan lembut lalu menciumnya. Menatap ayahnya dengan kasih sayang. Tak ada yang luar biasa dari apa yang anak itu lakukan. Tapi aku menitihkan air mata haru melihatnya. Anak itu tidak sepenuhnya tahu tentang apa yang terjadi pada ayah dan ibunya. Walaupun mungkin dulunya anak itu pernah jadi anak yang tidak diinginkan, tapi saat ini ia tumbuh dengan sehat. Ia bahagia terlahir di dunia ini. Mungkin orang lain akan menganggap bahwa ia adalah aib bagi keluarga, tapi baginya, mempunyai ayah dan ibu saat ia lahir adalah anugerah. Ia tersenyum, ayah ibunya tersenyum, seakan melupakan masa lalu. Indah sekali~
Aku bergumam dalam hati, "Allah swt sangat luar biasa, ia selalu tahu skenario terbaik bagi hambanya, apa jadinya jika saat itu ibunya aborsi? Tentu saja anak itu tidak akan tersenyum melihat ayah ibunya, dan mungkin saja ayah ibunya akan merasakan rasa bersalah yang teramat dalam seumur hidup. Hmm, sembari menghela napas, berpikir bahwa "Segala qadha dan qadar sudah di atur sebelum manusia itu di lahirkan, maka apa salahnya kita mengikuti alur yang ditunjukkan oleh Tuhan?" Kalimat pembenaran saat hati mulai dipenuhi ketenangan. Mengusap perlahan air mata yang telah tumpah ruah membasahi tulang pipiku. Sambil berdoa dengan khidmat kepada sang perencana terbaik. Bermohon agar kiranya doa yang kupanjatkan diijabah dan membuatku berkata "Sungguh Allah Swt Telah baik untuk menjadikannya kenyataan" Qs. Yusuf: 100, terima kasih Tuhan atas nikmatmu yang tiada terhingga.

Thursday, December 29, 2016

Mawar Berduri di Tepi Jurang

Aku punya kisah inspirasi yang tak pernah bosan aku dengarkan, kisah ini dari seorang sahabatku yang senantiasa mengingatkan ku tentang kebaikan. Entah aku harus memberi judul tulisan ini apa, tapi di bawah kisah yang ia berikan ia menuliskan "Mawar Berduri di Tepi Jurang" maka aku berpikir untuk memberi judul ini dengan kalimat itu. Kisah ini sungguh menginspirasi banyak perempuan, bahkan lelaki yang mungkin menginginkannya.

MAWAR BERDURI DI TEPI JURANG
Menceritakan: aku

Bogor, 1998.
Aku mengisi sebuah training motivasi, dimana pesertanya adalah anak-anak SMA kelas 1 dan 2, aku membagikan kepada mereka masing-masing kertas A4, lalu aku minta mereka menggambar apa saja tentang diri mereka, entah itu cita-cita ataupun keadaan mereka dan keluarga mereka. Lalu aku meminta mereka menjelaskan makna dari yang mereka gambar. Aku tercengang dengan siswa yang bernama Ummu. Kudapati ia menggambar mawar berduri dengan warna gelap sebagai latarnya, lalu aku bertanya kepada ummu,
"Ummu, ada apa dengan bunga mawar berduri?" Lalu ia jawab,
"mawar berduri itu adalah aku, yah perempuan." Ia kembali melanjutkan.
"Mawar sempurna karena ia berduri. Banyak orang yang bilang duri pada mawar mengurangi keindahan mawar, duri pada mawar merusak mawar itu sendiri. Padahal durilah yang buat mawar itu menjadi sempurna dan indah. Perempuan seperti mawar. Dan duri adalah aturan tuhan bagi setiap perempuan. Seperti duri pada mawar, banyak orang yang bilang, aturan allah bagi setiap perempuan itu merusak keindahan perempuan, sulit beraktivitas, susah gaul, susah kerja, padahal seperti duri pada mawar, aturan itu juga yg membuat wanita dikatakan wanita." Lalu ia kembali mengatakan,
"Aku wanita seperti mawar berduri, aku wanita seperti apa yang tuhan mau aku lakukan, akan ku lakukan. Dengan apa yang tuhan mau aku kenakan, aku akan kenakan. Apa yang tuhan mau aku rasakan akan aku rasakan. apa yang tuhan mau untuk aku katakan akan aku katakan. maka aku mawar berduri, apa yang tuhan mau, tuhan mau, tuhan mau ada pada diriku."
Seluruh peserta termasuk aku terkesima dengan jawaban seorang siswa kelas 1 SMA yang teramat luar biasa. Aku tidak menyangka dari 200 orang siswa ada satu orang yang benar-benar serius dengan apa yang ia gambar. Tidak sampai di situ, aku kembali bertanya,
"Lalu mengapa latar dari bunga mawar ini berwarna gelap? Mengapa tidak warna terang seperti kuning, hijau, biru,merah atau yang lainnya, mengapa di kasih warna gelap?" Lalu ia menjawab,
"Aku tak mau menjadi mawar berduri di tengah taman. Kalau aku jadi mawar berduri di tengah taman, maka sangat mudah orang untuk memetikku. Hanya ada denda 50 ribu Rupiah atau 2 bulan kurungan penjara lalu orang akan memetikku dengan sangat mudah. Aku tidak ingin seperti itu, aku ingin menjadi mawar berduri di tepi jurang. Makanya aku memberi warna gelap di bagian belakang. Maksudnya, aku ingin menjadi mawar berduri di tepi jurang, karena suatu saat nanti aku yakin, kelak akan ada seorang laki-laki yang datang untuk memetikku. maka aku yakin dia adalah laki-laki yang berani mengorbankan nyawanya untukku. Resikonya besar di tepi jurang, nyawa. Bukan sekedar denda bukan sekedar kurungan 2 bulan penjara. Gemuruh suara tepuk tangan dari dalan ruangan pun terdengar. Semua berdecak kagum. Masyaa Allah.

Beberapa tahun kemudian, aku mendapatkan informasi tentang dia. Anak itu adalah anak yang biasa saja, bukan dari kalangan orang kaya, ia sederhana, bahkan dia punya penyakit jantung. Mau dikatakan cantik juga tidak secantik bintang sinetron, penampilannya biasa. Setelah tamat SMA, ia diterima lulus jalur PMDK tanpa syarat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sekarang, dia sudah berkeluarga, sudah memiliki anak, telah berhasil menjadi dokter spesialis di Depok.
Sungguh luar biasa, ia menjadi indah karena ia tidak pernah memburukkan gambarnya, jika orng bertanya tentang siapa dia, maka ia jawab yang indah karena ia yakin, Allah akan bantu mengindahkan masa depannya, jika dia ditanya tentang cita-citanya, dia akan katakan yang terbaik, karena dia yakin apapun keadaannya hari ini, dia yakin allah akan bantu mengindahkan cita-citanya di kemudian hari.
Kisah yang luar biasa, Orang yang menjadi besar karena tidak pernah merasa kecil, buat kita yang punya allah yang maha, maha, maha itu, mengapa kita harus merasa kecil, kalau hari ini kita merasa tidak punya harta, kita miskin, tapi kita hidup bersama Allah yang maha kaya, jadi mengapa kita harus minder dengan kemiskinan kita?. kalau hri ini kita merasa kita kecil, toh kita dekat. Lebih dekat dari urat nadi kita dengan Allah yang maha besar. Jadi mengapa kita takut dengan kekecilan kita?. Klu hari ini kita merasa tidak berilmu, toh kita hidup senantiasa dengan Allah yang maha tahu jadi mengapa kita harus takut dengan apa yang ada pada diri kita skrng?.

"Kau pernah dengar kisah Nabi Yusuf As?"
Yusuf pernah berkata kepada Ayahnya, "Ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, semuanya sujud kepadaku" Qs. Yusuf : 4
Lalu di ayat selanjutnya hingga ayat 99, semuanya menceritakan tentang bagaimana perjuangan Nabi yusuf. Ia di masukkan ke dalam sumur, dijadikan budak, ia dijual, di penjara, di goda Zulaikha, terus-terus, semuanya adalah cobaan, ujian. Hingga sampai di ayat 100, nabi yusuf berhasil menjadi raja, lalu ia panggil ayah dan saudara-saudaranya. Kemudian ia dudukkan ibu dan ayahnya di singgasananya. Lalu berkata, "ayahku, ini mimpi yang dulu ku katakan padamu. Dan sungguh Allah telah baik untuk menjadikannya kenyataan."

Maka jika kita beriman kepada Nabi Yusuf AS. Belajar pada Nabi Yusuf. Kisa beliau mengajarkan pada kita kalau hidup kita bukan dimulai kemarin, dari siapa kita lahir, apa latar belakang kita, darimana dulu kita sekolah/kuliah, Apa pekerjaan kita sekarang. Tapi, kisah hidup kita adalah saat kita berani mengatakan apa mimpi kita, apa yang kita inginkan kedepannya. Dan kisah hidup kita hanya pantas di akhiri seperti Nabi Yusuf. Saat kita berhasil mendapatkan apa yang kita gambarkan apa yang kita mimpikan. Lalu kita mengatakan kepada orang-orang yang pernah kita beritahu tentang mimpi kita "Sungguh Allah telah baik untuk menjadikannya kenyataan"

Sungguh kisah yang inspiratif yang membuatku kembali terisak jika mendengarnya. Ya Allah jadikan aku, kami, dan wanita yang membaca kisah ini menjadi wanita seperti mawar berduri di tepi jurang. Jangan kau jadikan kami wanita yang jauh darimu, yang jauh dari aturanmu. Amiin ya rabb~

Monday, October 17, 2016

Kamu!

Kamu! Pendekar dengan wangi semerbak. Yang membantuku menyembuhkan luka yang amat dalam rasa sakitnya.

Setahun ya? Aku tahu kamu, kamu tahu aku. Tidak lebih tidak kurang. Bercakap pun seperlunya, namun dalam pertemuan, selalu mencuri tatap bergantian dalam diam. Apa yang salah dari semua ini? 
Akhirnya ada tokoh baru dalam cerita ini, setelah sebelumnya hanya ada satu pemeran utama dan selebihnya hanya datang silih berganti.
Aku akhirnya bisa menentukan apa yang harus aku lakukan setelah kalimat "bertahan satu kaki" itu terus terngiang di benakku.
Setelah tangisan panjang yang sama sekali tak membantuku keluar dari masalah ini.
Kamu~
Hadir sebagai pembalut luka, kau tak tahu banyak tapi kau mau melakukannya, menyembuhkanku dari rasa sakit yang selama ini aku rasakan.
Hari-hari bersamamu membuatku sedikit lupa aku pernah terluka.
Kamu~
Pendekar yang bersedia melindungiku dari apapun. Kau sebut dirimu "HeartGuard" ku. Apapun itu, saat ini kau memberiku kebahagiaan.
Kau sosok yang berbeda, kau mandiri, dan rela melakukan apapun untuk apa yang ingin kau capai. Kau sosok pekerja keras.
Tapi kau penyendiri, ada hal yang membuatku ingin terus bersamamu, agar kau sadar bahwa ada aku yang menyayangimu bahkan banyak orang yang menginginkan kehadiranmu. Kau tidak sendiri. Jangan pernah sendiri lagi.

Dear My HeartGuard..
Terima kasih untuk hadir sebagai penyembuh luka, aku berharap kau tak kembali memberiku luka.
Terima kasih telah membiarkanku masuk dalam kehidupanmu.
Terima kasih atas cinta dan kasih sayang, Segala bentuk perhatian dan pengorbanan.
Maafkan "little fairy"mu ini yang masih banyak kekurangan, dan mungkin belum bisa mengerti sepenuhnya tentang dirimu.

Saturday, September 10, 2016

Jawab Aku!

Malam ini aku merindukanmu, tapi apakah aku harus mengatakannya?
Mungkin cara ini akan lebih baik. Aku diam dan membuatmu tak tahu apa-apa. Kau juga takkan ingin mencari tahu. Biarkan aku sendiri dengan perasaanku. Biarkan aku membangun cinta dengan kenangan indah yang telah berlalu. Karena aku sudah tidak yakin pada cintaku saat ini. Biarlah aku bersama bayangan indah tentangmu, tanpa terlalu banyak rasa sakit yang aku rasakan. Saat itu aku lakukan, aku akan merekahkan senyum tanpa terluka.
Saat semua kesalahan aku jatuhkan pada diriku sendiri, aku suka itu.
Saat kau hanya membutuhkanku bukan orang lain.
Saat kau terus mencariku tanpa ku minta.
Saat kau sakit dan kau mengadu padaku.
Saat kau terbaring dan hanya ada aku sebagai obatmu.
Saat kau lapar dan hanya tempatku yang membuatmu kenyang.
Saat kau bahagia dan hanya aku tempatmu bercerita.
Saat aku menangis dan hanya kau yang mengusap air mataku.
Saat aku terluka dan hanya kau yang ada di sisiku.
Saat aku marah dan hanya kau yang menenangkanku dengan hangat.
Saat aku kesepian dan hanya kau yang menghiburku.
Saat tidak ada hal apapun yang kita rahasiakan sendiri-sendiri
Saat hanya ada aku dan kau, tidak ada orang lain.
Aku selalu cinta itu. Buatku kenangan itu membuatku semakin jatuh cinta.
Tapi disaat aku terbangun dari kenangan itu, rasanya sungguh aku benar-benar sendirian. Kau sudah tak bersamaku, dan aku harus siap menerima itu.
Satu persatu moment indah yang dulu tercipta telah hilang, seperti jarak yang memisahkan kita. Semuanya tidak akan terjadi lagi. Bahagia itu sudah berlalu. Tak ada yang tersisa. Dan sudah saatnya aku mengubur harapan. Waktunya tidak sama lagi, kondisi dan keadaannya pun telah berbeda. Hari-hari berlalu namun tak nampak istimewa lagi. Tak ada yang indah, hanya ada rasa sakit serta luka yang semakin menganga. Dan kau tidak pernah mengerti itu. Sudah tidak ada cinta, masihkah aku harus bertahan? Seseorang jawab aku.

Tuesday, August 23, 2016

Dulu~ Jatuh Cinta Dengan Indahnya

Untuk seseorang, yang dulu membuatku jatuh cinta dengan indahnya..
Untuk lelaki sederhana yang dulu membawaku pada cinta yang luar biasa..
Aku jatuh cinta pada hatimu yang suci, aku terpesona pada lantunan firman allah yang keluar dari lisanmu..
Benar, aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Tak ada keinginan untuk lebih dari sekedar melihatmu saja. Tak ada hasrat untuk memilikimu. Dulu~
Cintaku hanya sebatas tulisan pada lembaran-lembaran kertas usang, tak bermakna apapun bagimu. Tapi amat besar bagiku. Perasaan yang hanya Allah dan aku yang tahu. Sampai pada aku mulai berharap, berharap lebih dekat dengan mu. Dan tuhan mengabulkannya. Aku tak berpikir sama sekali, ini ujian ataukah jalan tuhan. Yang aku tahu ini adalah hadiah. Hadiah yang sangat indah. Saat aku belum mengerti arti cinta dalam islam. Aku hanya mengandalkan perasaan. ~
Disaat orang lain jatuh cinta dengan kelebihan lelaki dalam hal duniawi, aku lebih tertarik pada sosok lelaki sederhana dimata manusia, tapi punya derajat tinggi dimata Allah. Tenang rasanya cinta itu terjaga.
Dulu aku tak mengharap perhatian, cemburupun tidak. Yang selalu aku harapkan adalah pelajaran untuk menambah wawasan agamaku. Dan benar aku semakin banyak tahu darinya. Semua ilmu yang dia ajarkan masih aku ingat, karena ini yang membuatku semakin mencintainya.
Aku merasa menjadi hamba yang beruntung didekatkan pada lelaki yang seperti ini, tampa aku sadari bahwa dia adalah ujian untukku, dan aku adalah ujian untuknya.
Singkat cerita~
Kedekatan semakin terjalin tanpa sadar ada dosa yang terus mengalir. Ampuni aku ya allah.
Cintaku yang suci masih terjaga sampai saat dia lari dari zona yang membuatku bertahan. Dan rasa sakit yang benar-benar pedih pun aku rasakan. Rasa cemburu, marah, semuanya bercampur aduk. Mungkin ini akibat aku tak menghalau rasa ingin dekat dengannya. Luar biasa sakitnya, air mata ku pun tak mampu menahannya sampai ia tumpah, dan akan terus tumpah jika mengingatnya, bahkan saat ini. 
Sejak saat itu, entah dia banyak berubah, bukan lagi lelaki yang membuatku jatuh cinta. Dan semenjak itu rasa percaya itu hilang dan rasa cemburu itu semakin tebal menempel dalam hati. 
Dan harapanku pun berubah menjadi keinginan untuk selalu diperhatikan. Aku sudah merasa selalu ada cinta lain untuknya, aku jadi orang yang curigaan. Ah tipikal wanita yang buruk. 
Ya rabb, bantu aku menjadi lebih baik.
Sampai saat ini, hanya ada satu harapan. Bukan lagi tentang ilmu agama, bukan lagi tentang petuah-petuah, nasihat nasihat indah, tapi perhatian.
Lelaki itu sudah banyak berubah, jauh dari rasa cintaku dulu. Cintaku tak pudar, tak juga berkurang, tapi rasa kecewa yang bersarang dalam hatiku, membuat implementasi dari rasa cintaku tak sesuai dengan sikapku. Semuanya berlalu dan aku biarkan perubahan itu.
Namun semakin lama, semakin aku belajar, semakin banyak kecewa yang aku temui.
Menumbuhkan harapan-harapan yang mungkin akan sulit ia penuhi. Semuanya jadi serba salah. Aku tak tahu bagaimana lagi, aku tak ingin sok pintar di hadapannya dengan banyak menuntut berdalih islam yang notabenenya ia lebih ketahui dariku. Aku juga tidak lebih baik darinya. Tapi aku harus bagaimana? Tak peduli? Semakin aku tak peduli semakin besar rasa sakit yang aku rasakan. Ya allah aku harus bagaimana? Atau saat ini aku harus mengubur segala harapan-harapan itu? Apakah ini jalan dari Allah untuk berhenti ? Entahlah~ aku masih menyayanginya.
Selalu ada kegelisahan dan air mata yang ia berikan, selalu ada rasa kecewa dan kesakitan yang ia tuangkan, tapi kenapa aku bertahan?
Perubahannya membuatku resah, ada rasa ingin menyerah, putus asa. Tapi bukannya berdakwah itu mengajak bukan meninggalkan? Apa cara ini salah? Apa aku terlalu membangun harapan dengannya? Lalu aku harus bagaimana?
Aku selalu merasa, hanya aku yang mencintai, hanya aku yang berjuang, hanya aku yang bertahan, hanya aku yang ingin menjadi lebih baik untuknya, hanya aku yang berjalan sendiri dengan kaki pincang tanpa ada dia yang memberiku satu kakinya untuk jalan bersama. Apa yang aku rasakan ini salah?
Setiap kalimat yang aku katakan padanya hanya gurauan, tak ada keinginan dan usaha untuk melakukannya. Bahkan janji yang ia katakan sendiripun mungkin sudah lelah dia jaga. Dia ingin bebas, seperti burung yang terbang kemana saja dan melakukan apa saja Tanpa hambatan tanpa halangan, apalagi jika hambatan dan halangan itu datangnya dari aku. Katanya aku hanya harus menunggu perubahannya kembali. Dengan kalimat nanti nanti nanti dan nanti. Entah nanti itu kapan? Maka untuk apa aku bertahan? Kalau tanpa ada aku pun ia bahagia. Dia tak butuh aku. Banyak wanita yang menginginkannya. Untuk apa dia bergantung pada 1 wanita saja? Kalimat pesimis yang selalu terngiang di kepalaku.

Dear lelaki istimewa yang ditakdirkan tuhan,
Hidup kita tak akan lebih dari umur-umur nabi nabi sebelum nabi Muhammad SAW, sampa kapan kita menunggu datangnya kebaikan yang diberikan Allah? Padahal kau tahu semuanya, tapi kenapa kau seakan membenci ilmu yang kau ketahui?
Kapan ? Adalah kata tanya yang tak memiliki batas, tapi usia kita selalu memiliki batas. Ketika Allah menakdirkan kematian bagi hambanya maka tidak ada yang dapat menahannya. 
Allah menjanjikan jubah kemuliaan untuk kedua orang tua seorang hamba yang di hatinya terjaga firmanNya kan? Lalu kapan istiqomah untuk menjaganya?
Semua yang aku harapkan hanya untuk kebaikanmu, bukan semata-mata keegoisanku. 
Adakah usaha untuk menjadi diri sendiri tanpa harus mengikuti gaya hidup orang lain yang terlalu memprioritaskan dunia? 
Banyak orang yang bangga ketika ia terkenal dengan cara yang banyak dilakukan oleh orang lain. Apa yang perlu dibanggakan dari hal yang orang lain juga bisa lakukan. Terlebih memberi banyak dampak negatif. Maaf aku tidak tertarik dengan yang seperti ini. Meningkatkan popularitas, ujub, menerima banyak sanjungan, pujian, bukannya ini ujian penyakit hati ya?

Dear lelaki yang berparas tampan,
Maafkan aku yang terlalu banyak menuntut mu seperti yang aku inginkan. Tapi Bukankah itu hakikat cinta? Seperti yang temanmu katakan berkaitan dengan lagu -tulus-jangan cintai aku apa adanya- dia katakan kalau cinta harusnya menuntut kan? Agar ada perubahan, dan kau setuju dengan itu. Tapi kenapa sekarang kau berbicara lain? Banyak kata, kalimat, yang sekarang berbalik dari pro menjadi kontra. Entah kau kenapa. 

Dear lelaki yang diidamkan wanita,
Bisakah kau berkata dengan kalimat lembut agar aku tak terluka lagi? 
Tolong jangan ucapkan lagi kalimat yang mengatakan aku berlebihan, karena itu membuatku terluka.
Tolong jangan selalu pasrah dengan sebuah kesalahan.

Dear lelaki yang dulu membuatku jatuh cinta,
Maukah kau kembali membuatku jatuh cinta?
Apa yang harus aku lakukan? Pergi atau bertahan? 
Jika bertahan, apa harapan yang akan membuatku terus bertahan?



Thursday, June 2, 2016

Lihat, diam, jangan mendekat!




Hanya satu, dan kau bisa menerangi dunia, hanya satu dan kau bisa menghilangkan gelap
Yah kau bulan.. bulan pada malam hari. Berdiri kokoh bak prajurit yang tangguh.
Selamat malam.. tulisanku dimulai pada malam hari. Entah mengapa malam selalu membuatku memikirkanmu, mungkin karena waktu malam adalah waktu saat kita pertama bertemu.
Oke kali ini aku bercerita tentang cara mencintai yang baru kali ini bisa aku lakukan, dan bisa membuatku bertahan dengan cara seperti ini.
Cinta merupakan fitrah, ia suci dan sangat indah. Tak semua bisa merasakan cinta, mungkin mereka bilang itu cinta namun ternyata itu hanya hawa nafsu duniawi yang setan buat sedemikian rupa menyerupai cinta, tapi itu bukan cinta!
Malam selalu membuatku memikirkanmu, padahal sudah berapa kali aku berusaha untuk tidak ingat lagi kenangan kita, namun tetap nihil, kenangan itu terus hadir satu per satu, membuat kenangan itu menjadi cerita. Tapi aku harus sadar ini sudah terlambat.
Mari kita mulai..
Suatu tempat perbelanjaan yang sangat ramai pengunjung.. Aku, Sinta, dan Fandi berjalan bersama. Kami tiba di sebuah restaurant, karena kami sedang lapar. Tak ada yang istimewa dari kalimat pembuka ini. Yah kami makan, tertawa, dan bercerita. Dan apa sebenarnya yang ingin aku sampaikan?
Di tempat ini, ada kursi kosong di sampingku saat makan. Aku berbalik membelakangi pintu masuk restaurant ini, jadi aku tak melihat siapa-siapa baik yang datang maupun yang pergi. Eng ing eng..
Kau datang.. aku kembali melihatmu. Kau duduk di kursi sebelahku, walaupun tidak tepat di sebelahku. Kau asik berbicara dnegan Fandi, aku pun tak menghiraukanmu, tapi tahukah kau berapa kali jantungku berdebar kencang ketika dari sudut mataku benar-benar melihatmu lagi, ah lupakan~
Kau hanya sebentar, tak lama fandi pun pergi juga. Menyisahkan aku dan sinta. Setelah itu Aku kembali mengitari pusat perbelanjaan itu, kami berjalan, sambil menunggu acara di mulai. Cukup lama sampai hari hampir menjelang sore, lagi-lagi aku melihatmu dari lantai 2. Aku tersenyum sendiri melihat tingkahmu di atas panggung. Andai yang kau ceritakan itu adalah tentang kita. Ah lupakan~
Aku selalu senang melihatmu, walau itu hanya dari kejauhan. Tenang saja, aku tidak akan mendekat, karena ku tahu, kau akan pergi jika aku kembali mendekatimu. Tak ada sapaan tak ada guratan senyum untukku, saling berpura-pura tidak memerhatikan. Memilukan sekali~
Sorepun hadir namun belum menampakkan senja, aku pergi dari penglihatanmu, aku dan sinta melangkah menuju lantai tiga untuk menunaikan shalat ashar, dan ketika selesai, kudapati dirimu berdiri di dekat tangga. Dan kau seorang diri disana.
Ingin rasanya aku menghampirimu, membuka percakapan…
“mengapa kamu sendiri?”
“kau sudah shalat?”
“wah aksimu tadi keren sekali”  Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Sekali lagi aku tak bisa mendekat, aku takut. Aku takut kau semakin jauh, bahkan hingga mata minusku tak mampu mencarimu lagi. Aku takkan membiarkan itu terjadi.
Cukup melihatmu dari jauh, aku sudah bahagia. Anggap saja ini hukuman bagiku dari masa lalu.
Aku dan sinta kembali menuruni anak tangga, sesekali mataku melihatmu, namun tetap kau sendiri diam, dan seperti memikirkan sesuatu.
Sampai pada lantai dasar, kau masih dengan posisi seperti itu, melihat ke bawah, diam, tanpa bicara. Entah ini ilusi atau nyata, entah aku yang berlebihan atau ini benar adanya.
Kau ingin menyapaku kan? Kau ingin berbicara dengan ku kan? Dan kau masih meragukan ku ? dan ilusi ilusi lain. Sampai aku turun, kau masih melihatku dari atas sana kan? Haha terlalu percaya diri~
Mungkin kau muak melihatku, mungkin kau tak ingin lagi menemuiku, mungkin kau ingin aku pergi dari hidupmu seperti dulu, dan banyak kemungkinan buruk yang selalu menghantuiku. Please help me! Berikan aku jawaban~
Kembali pada cinta~
Aku sadar bahwa aku tak seharusnya mengusikmu lagi, aku tak seharusnya menemuimu waktu itu jika benar-benar perasaan itu telah mati, percuma membendung jika arus itu semakin kuat dan bahkan membuat bendungan itu runtuh, percuma~
Dan kini aku hanya bisa tetap tinggal bersama puing kenangan, hanya menatap dari jauh, diam tanpa bahasa, dan tidak akan pernah mendekat, walau pertemuan itu selalu ada. Pertemuan itu akan selalu seperti itu, tidak berarti apa-apa bagimu.

Saturday, May 28, 2016

Diantara Angan dan Kenangan



            Aku, seseorang yang menyedihkan. Seseorang yang terus terpenjara dalam kenangan..
Cerita ini bermula pada saat aku menginjakkan kaki di bangku sekolah. Saat aku belum mengenal apa itu terluka. Saat aku belum mengenal apa itu cinta yang sebenarnya.
Namaku Nirmala, aku adalah orang yang suka kesibukan. Aku adalah orang yang sangat menyukai organisasi. Hidupku delapan puluh persen berkecimpung di dunia organisasi. Umurku saat itu 16 tahun, dan aku sudah suka organisasi sejak di bangku Smp. Organisasi yang ku ikuti di sekolah adalah pramuka. Aku sangat senang berkemah, aku anggap sama saja dengan wisata alam yang lebih menarik. Ada banyak pelajaran yang kudapatkan dalam organisasi ini.
Sampai pada kami menerima surat untuk berkemah di suatu tempat yang jauh dari sekolahku. Aku belum pernah kesana. Dan aku yakin ini akan menjadi pengalaman terbaik.
Namun bukan itu yang akan ku ceritakan..

Dari kenangan yang kini menjadi angan..
            Malam hari dengan rasi bintang yang indah, sepoi angin yang menyejukkan, bulan pun juga menampakkan keindahannya, aku berjalan mengitari lapangan yang sangat luas. Namun tidak sendiri, aku bersama sahabatku yang hingga kini akan terus menjadi sahabatku. Saat itu perut kami sudah sangat kelaparan, maka kami berjalan untuk mencari makan sekitar area perkemahan. Tak lama kemudian kami pun menemukannya yang cukup jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Selang beberapa lama, ada dua lelaki yang juga datang di tempat kami makan, ia terus berbalik ke arahku, namun aku menghiraukannya.
            Waktu berlalu~
            Aku kembali berjalan, tapi sekarang tidak mencari tempat makan, namun menuju pertunjukan karya dan budaya, para peserta sudah banyak berdatangan untuk menonton, saat aku dan teman-teman bersiap-siap di sekitar panggung, ada sebuah property yang tertinggal, dan aku segera berjalan sendiri untuk kembali ke tenda. Namun tidak jauh dari tempat pertunjukkan ada seseorang yang mencegat ku di tengah jalan. Aku terhentak, ternyata orang itu adalah orang yang sama saat aku makan tadi, lalu ia berusaha berbicara padaku dengan tersipu malu, dan ia meminta nomor telpon ku.
            Tahu kah ? masa itu menjadi awal mula aku berpikir apakah begini cara lelaki berkenalan? Atau hanya dia saja? Ah entahlah. Kemudian ia berlalu..Lelaki itu pergi dengan senyuman manis. Setelah pembicaraan singkat itu, aku dan dia berkenalan lewat sms, haha lucu yaa.. saling mengenal satu sama lain, saling memerhatikan dari kejauhan, dan saat itu aku benar-benar lupa rasa sakit di masa lalu.
            Tidak cukup seminggu masa indah itu, aku seperti terjebak cinta lokasi pada KKN yang dirasakan mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir. Dan itu benar-benar aku rasakan.
            Namun bukan itu inti cerita ini..

            Kau pamit, memberiku kenangan indah yang tidak pernah aku lupakan. Kenangan yang kini menjadi angan.. kita pun tak pernah lagi bertemu.. handphone lah yang menjadi perantara kita, masih saling memberi kabar, layaknya seorang kekasih yang takut kehilangan, yah dulu benar adanya, kita tak ingin kehilangan satu sama lain. Kita akan terus menjaga hubungan ini.
            Dan.. saat yang tak pernah aku pikirkan akan terjadi. Kau hancurkan kenangan itu dengan alasan kau tidak bisa jauh dariku, kau menggores luka untuk yang pertama kalinya. Dan luka ini menjadi luka kedua dalam hidupku.. kau berhasil membuatku lupa akan terluka, namun kembali kau bangkitkan luka itu dalam hatiku. Aku kalap rasa sakit tak bisa ku bending sendiri, menangis terluka akan goresan yang kau tuai padaku. Dan aku pergi, benar-benar pergi membawa luka~
            Namun bukan hal ini yang menjadi klimaks dalam cerita ini..

            Mencoba kembali bangkit dalam keterpurukan, aku tidak benar-benar lelah untuk mencari cinta itu, hingga pada akhirnya ada orang lain yang datang dalam hidupku. Aku piker orang lain ini dapat menggantikanmu dan membalut luka ku. Dan aku menjalaninya. Ku tanamkan dalam pikiran ku bahwa dialah yang benar-benar mencintaiku, seperti pangeran yang hadir, namun ternyata tidak. Dia lebih banyak memberiku luka, tapi kenapa aku bertahan?
            Dia yang aku anggap dapat mencintaiku tulus ternyata tidak. Aku takut terus bersamanya. 3 lebih dengannya banyak membuatku berubah, berubah menjadi makhluk liar dan tolol. Bukan itu yang ku harapkan dalam hubungan ku, tapi tetap saja dia bukan pangeran yang sesungguhnya.
Ada banyak hal tentang dia, tapi cukup Tuhan yang tahu keresahanku terhadapnya.
            Namun bukan ini, pemerannya..

            Cerita ini berlalu, sampai aku berada di bangku kelas tiga Sma. Takdir kembali mempertemukan ku dengannya, dan yah dia sudah mahasiswa, dan kenangan itu masih ada dalam benakku. Bercerita sejenak, ku dapati senyum itu lagi, dan hatiku kembali goyah. Namun cepat ku tepis kembali kenangan itu. Dan semuanya terlewati~
            Tak ada dirimu dalam hidupku lagi, aku pikir aku tidak akan benar-benar menemuimu lagi. Saat itu aku tetap bertahan, sesekali kau hadir dalam pikiranku, sesekali kau datang dalam hubungan ku dan berakhir marah diantara kami. Begitu seterusnya, sampai ku putuskan untuk pergi meninggalkan kenangan.. pergi ketempat yang tidak akan ku temui dirimu, dan tentunya bersama kekasihku saat itu, namun ternyata banyak hal yang tidak ku inginkan terjadi disana, dan membuatku harus dan wajib untuk pulang sebelum terlalu dalam. Dan aku kembali~
            Namun bukan ini akhir cerita ini..

            Kau bahagia aku kembali, ya aku tahu itu. Kau ingin menemuiku, namun tidak dengan ku. Aku takut akan pertemuan itu, telah lama aku berpikir, ketika aku menemuimu sudah pasti kenangan itu akan kembali. Apalagi dengan kondisi hubungan ku yang cacat katamu.. aku sudah tahu ini akan terjadi, namun tidak dapat aku hindari.
            Setelah kenangan aku kubur jauh di dasar hatiku, aku memberanikan diri untuk menemuimu, aku sudah berpikir beribu-ribu kali kalau kenangan itu tidak akan lagi ke permukaan. Namun ternyata aku salah. Kenangan itu kembali muncul di permukaan. hatiku menolak seratus persen pikiran ku. Dan untuk pertama kalinya aku melihatmu setelah bertahun-tahun. Namun, nampaknya skenario Tuhan berkata lain. Semuanya tidak benar-benar yang ku harapkan. Nirmala hanya seseorang yang menyedihkan.
            Namun bukan ini akhirnya..

            Pertemuan itu berlalu begitu saja, dan berhasil membuatku terus memikirkan hari itu. Sampai bendungan ini runtuh karena kuatnya arus dalam hatiku, maka aku kembali menemuinya, mengungkapkan semua kerisauanku dengannya, kerisauanku dengan perasaanku, dan semua yang ku rasakan, dan hari itu terjadi lebih dari kenangan lalu, kau menambahkan kenangan dalam hidupku kembali, namun lagi-lagi hanya sebentar. Hampir sebulan aku berada dalam kenangan, kenangan yang selalu aku semogakan menjadi angan. Dan aku akan terus berada dalan kenangan itu. Biarkan aku sendiri jika tidak tanpamu. Biarkan aku merasakannya jika tidak bersama mu.
            Tibalah Nirmala pada saat ini. Bukan masa lalu juga bukan masa depan. Jasadnya sudah tumbuh dewasa, namun kenangan itu tidak hilang. Nirmala benar seorang diri bersama kenangann. Beberapa hari ini, kau selalu datang dalam mimpiku, dan kembali menciptakan kenangan. Kenapa kau pandai menciptakan namun tak pandai membuatku menghapusnya?
            Nirmala, sadarlah..
            Di antara angan dan kenangan, kau terus hadir dan membuatku lupa bahwa aku pernah mencintai orang lain dalam kesakitan. Walau ku tahu saat ini aku tetap berada dalam balutan luka yang masih perih. Tapi luka itu membuatku menjadi pribadi saat ini. Dia yang mengajarkan ku seperti ini, dan akhirnya aku benar-benar pergi dari hidupnya.
            Aku tidak pernah mengira ini akan terjadi, tapi inilah yang terjadi. Aku sendiri. Terus mengais masa lalu yang selalu aku semogakan menjadi masa depan. Aku tidak pernah tahu masa diakan datang akan seperti apa, tapi aku akan tetap ada bersama kenangan itu. Mencoba bangkit dengan caraku sendiri, berteman dengan waktu, dan berdamai dengan dirimu..
            Aku orang yang tidak pernah menyesal, namun ini benar-benar penyesalanku yang pertama, aku tidak kembali padamu. Sampai kau benar-benar menutup pintu untukku. Tanpa celah buatku masuk. Dan ini membuatku semakin bersahabat dengan kenangan. Sekali lagi, kenangan yang selalu aku semogakan menjadi angan.
            Nirmala, apakah ini akhir cerita ini?